Posted by Unknown on Senin, April 13, 2015 in Islami | No comments
Masalah najis bukanlah perkara
sepele, melainkan masalah yang sangat urgen, bahkan berkaitan dengan
ibadah yang paling besar, yaitu shalat. Oleh karena itu para ulama biasa
membahas masalah najis dan kesucian sebelum mereka membahas shalat dan
ibadah-ibadah lainnya.
Namun amatlah disayangkan, kaum
muslimah yang notabene berperan sebagai ibu terkadang tidak memahami
masalah ini. Yang banyak ditemui, mereka tidak berhati-hati dengan air
kencing anak-anak mereka. Seorang ibu, contohnya, melihat bayinya yang
tergolek di tempat tidurnya pipis. Dengan segera dilepasnya popok si
bayi beserta perlengkapannya yang terkena air kencing, lalu
dionggokkannya begitu saja di atas tempat tidur. Setelah itu langsung
digantinya dengan popok kering, atau kadang dia bubuhkan lebih dulu
bedak bayi di tempat keluarnya air kencing. Beres sudah, pikirnya.
Ibu yang lain, anaknya yang sudah
mulai merangkak mengompol di lantai. Bergegas diangkat anaknya,
dilepasnya celana basah dan digunakan sekaligus untuk mengusap lantai,
lalu dia tinggalkan begitu saja lantai yang berbekas air kencing si
anak. Tak terpikirkan anak-anaknya yang lain atau siapa pun yang
sebentar lagi akan melewati bekas air kencing tadi dan menyebarkan ke
mana-mana dengan langkah kakinya.
Bisa jadi yang seperti ini
terjadi karena memang mereka tidak mengerti tentang najisnya air kencing
anak, walaupun si anak masih bayi. Karena itu, perlu tentunya mereka
mengetahui masalah ini. Lebih-lebih –sekali lagi– hal ini berkaitan
dengan ibadah shalat.
Sebagian ibu mungkin menyangka,
air kencing bayi –terutama bayi yang masih mengonsumsi ASI eksklusif–
bukanlah najis. Padahal telah datang keterangan dari Rasulullah n
tentang najisnya air kencing bayi laki-laki maupun perempuan.
Sebagaimana dikisahkan dari Ummu Qais bintu Mihshan x:
أَنَّهَا أَتَتْ بِابْنٍ لَهَا
صَغِيْرٍ لَمْ يَأْكُلِ الطَّعَامَ إِلَى رَسُوْلِ اللهِn، فَأَجْلَسَهُ
رَسُوْلُ اللهِ n فِي حِجْرِهِ، فَبَالَ عَلَى ثَوْبِهِ، فَدَعَا بِمَاءٍ
فَنَضَحَهُ وَلَمْ يَغْسِلْهُ
“Ummu Qais pernah membawa bayi
laki-lakinya yang masih kecil dan belum makan makanan kepada Rasulullah
n, lalu Rasulullah n mendudukkan anak itu di pangkuan beliau. Kemudian
anak itu kencing di baju beliau, maka beliau pun meminta dibawakan air,
lalu beliau memerciki pakaian beliau (yang terkena air kencing, pent.)
dan tidak mencucinya.” (HR. Al-Bukhari no. 223 dan Muslim no. 287)
Al-Imam Al-Hafizh Ibnu Hajar
Al-‘Asqalani t menjelaskan, “Yang dimaksud makanan di sini adalah segala
makanan kecuali air susu yang dia minum, atau kurma yang digunakan
untuk mentahniknya, ataupun madu yang diberikan untuk pengobatan dan
yang lainnya, sehingga yang diinginkan di sini si anak belum diberi
makan apapun kecuali air susu semata-mata.” (Fathul Bari, 1/425)
Dalil yang lainnya, dari Abus Samh z mengatakan:
كُنْتُ أَخْدُمُ النَّبِيَّn ،
فَكَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَغْتَسِلَ قَالَ :وَلِّنِي قَفَاكَ. قَالَ:
فَأُوَلِّيهِ قَفَايَ فَأَسْتُرُهُ بِهِ، فَأُتِيَ بِحَسَنٍ أَوْ حُسَيْنٍ c
فَبَالَ عَلَى صَدْرِهِ، فَجِئْتُ أَغْسِلُهُ، فَقَالَ: يُغْسَلُ مِنْ
بَوْلِ الْجَارِيَةِ، وَيُرَشُّ مِنْ بَوْلِ الْغُلاَمِ
“Aku biasa melayani Nabi n, bila
beliau ingin mandi biasanya beliau mengatakan padaku, ‘Balikkan
badanmu!’ Lalu aku balikkan badanku dan aku tutupi beliau dengannya.
Suatu ketika Hasan –atau Husain– dibawa kepada beliau, lalu kencing di
dada beliau. Aku pun datang untuk mencucinya. Maka beliau mengatakan,
“Kencing anak perempuan dicuci dan kencing anak laki-laki dicucuri air.”
(HR. Abu Dawud no. 376, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam
Shahih Sunan Abi Dawud)
Riwayat yang lainnya dari istri Rasulullah n, ‘Aisyah x:
أُتِيَ رَسُوْلُ اللهِ n بِصَبِيٍّ يُحَنِّكُهُ، فَبَالَ عَلَيْهِ فَأَتْبَعَهُ الْمَاءَ
“Pernah dibawa ke hadapan
Rasulullah n seorang bayi laki-laki yang hendak beliau tahnik, lalu bayi
itu mengencingi beliau, maka beliau pun mengiringinya dengan air.” (HR.
Al-Bukhari no. 222 dan Muslim no. 286)
Selain hadits-hadits yang telah disebutkan, masih banyak hadits lain yang menerangkan najisnya air kencing bayi.
Bila hal ini telah jelas,
selayaknya kita harus mengetahui pula cara menyucikannya. Apabila si
bayi laki-laki dan belum mengonsumsi makanan utama apapun kecuali air
susu, maka dihilangkan dengan cara digenangi air. Sementara bayi
perempuan atau bayi laki-laki yang telah makan makanan lain selain air
susu, maka kencingnya disucikan dengan cara dicuci.
Hal ini telah diterangkan oleh
hadits-hadits di atas maupun dalam hadits yang lain. Di antaranya
disampaikan oleh Lubabah bintu Al-Harits x:
كَانَ الْحُسَيْنُ بْنُ عَلِيٍّ c
فِي حِجْرِ رَسُولِ اللهِ n فَبَالَ عَلَيْهِ، فَقُلْتُ: الْبَسْ ثَوْبًا
وَأَعْطِنِي إِزَارَكَ حَتَّى أَغْسِلَهُ. قَالَ: إِنَّمَا يُغْسَلُ مِنْ
بَوْلِ الْأُنْثَى، وَيُنْضَحُ مِنْ بَوْلِ الذَّكَرِ
“Al-Husain bin ‘Ali c pernah
berada di pangkuan Rasulullah n, lalu kencing di situ. Aku pun
mengatakan, ‘Pakailah pakaian yang lain dan berikan padaku sarungmu
wahai Rasulullah, hingga nanti aku cuci’. Beliau pun menjawab,
‘Sesungguhnya kencing anak perempuan dicuci dan kencing anak laki-laki
diperciki dengan air’.” (HR Abu Dawud no. 375, dikatakan oleh Asy-Syaikh
Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud: hasan shahih)
Hadits ini menunjukkan dengan
jelas adanya perbedaan antara kencing bayi laki-laki dan bayi perempuan
dalam cara membersihkannya. Kencing bayi laki-laki cukup dipercik dengan
air dan tidak perlu dicuci, sementara kencing bayi perempuan harus
dicuci dan tidak cukup hanya diperciki air. (‘Aunul Ma’bud, Kitabuth
Thaharah bab Baulish Shabiy Yushibuts Tsaub)
Ali bin Abi Thalib z mengatakan pula:
يُغْسَلُ بَوْلُ الْجَارِيَةِ وَيُنْضَحُ بَوْلُ الْغُلاَمِ مَا لَمْ يَطْعَمْ
“Kencing bayi perempuan dicuci
dan kencing bayi laki-laki dipercik, selama bayi itu belum makan
makanan.” (HR. Abu Dawud no. 377, dikatakan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t
dalam Shahih Sunan Abi Dawud: shahih mauquf)
Dalam riwayat yang lain ada tambahan dari Qatadah:
هَذَا مَا لَمْ يَطْعَمَا الطَّعَامَ فَإِذَا طَعِمَا غُسِلاَ جَمِيْعًا
“Ini selama keduanya belum makan
makanan. Jika keduanya telah makan makanan, maka sama-sama dicuci.” (HR.
Abu Dawud no. 378, dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih
Sunan Abi Dawud)
Al-Hasan Al-Bashri t meriwayatkan dari ibunya1:
أَنَّهَا أَبْصَرَتْ أُمَّ
سَلَمَةَ تَصُبُّ الْمَاءَ عَلَى بَوْلِ الْغُلاَمِ مَا لَمْ يَطْعَمْ
فَإِذَا طَعِمَ غَسَلَتْهُ، وَكَانَتْ تَغْسِلُ بَوْلَ الْجَارِيَةِ
“Dia melihat Ummu Salamah menuangkan
air pada kencing bayi laki-laki selama bayi itu belum makan makanan.
Ketika bayi itu telah makan, Ummu Salamah mencucinya. Dia juga mencuci
kencing bayi perempuan.” (HR. Abu Dawud no. 379, dishahihkan oleh
Asy-Syaikh Al-Albani t dalam Shahih Sunan Abi Dawud)
Demikian tata cara penyucian yang
diajarkan dalam Sunnah Rasulullah n, walaupun memang ada perbedaan
pendapat di kalangan ulama dalam hal cara penyucian air kencing bayi
ini, sebagaimana diterangkan oleh Al-Imam An-Nawawi t. Beliau
mengatakan, “Para ulama berselisih dalam hal cara penyucian kencing bayi
laki-laki dan perempuan menjadi tiga pendapat. Pendapat yang benar,
masyhur dan terpilih, kencing bayi laki-laki cukup dipercik (dicucuri)
air. Sementara kencing bayi perempuan tidak cukup dipercik (dicucuri)
air, tetapi harus dicuci sebagaimana najis yang lain. Pendapat kedua,
kencing bayi laki-laki dan perempuan cukup dipercik (dicucuri) air.
Pendapat ketiga, kedua-duanya tidak cukup hanya dipercik (dicucuri) air.
Dua pendapat ini dihikayatkan oleh penulis At-Tatimmah dari kalangan
sahabat-sahabat kami maupun selainnya. Dua pendapat ini adalah pendapat
yang syadz (aneh) dan lemah.
Di antara ulama yang berpendapat
dibedakannya (penyucian kencing bayi laki-laki dan perempuan, pent.)
adalah ‘Ali bin Abi Thalib, ‘Atha’ bin Rabah, Al-Hasan Al-Bashri, Ahmad
bin Hanbal, Ishaq bin Rahawaih, dan sekelompok ulama lain dari kalangan
salaf dan ashabul hadits, juga Ibnu Wahb dari kalangan murid-murid
Al-Imam Malik, dan diriwayatkan pula dari Abu Hanifah. Adapun di antara
yang berpendapat kedua-duanya harus dicuci adalah Abu Hanifah dan Malik
dalam pendapat yang masyhur dari mereka berdua, serta penduduk Kufah.
Ketahuilah, perbedaan pendapat
ini hanya terjadi dalam hal tata cara penyucian sesuatu yang terkena
kencing bayi laki-laki. Namun tidak ada perbedaan pendapat di antara
mereka dalam hal kenajisannya. Sebagian sahabat kami telah menukilkan
adanya kesepakatan ulama tentang najisnya kencing bayi laki-laki, dan
tidak ada yang menyelisihinya kecuali Dawud Azh-Zhahiri.
Al-Khaththabi dan ulama yang lain
mengatakan, pembolehan memerciki kencing bayi laki-laki menurut orang
yang berpendapat pembolehannya bukanlah karena kencing bayi laki-laki
ini tidak najis, melainkan sebagai peringanan dalam menghilangkannya,
sehingga inilah pendapat yang benar. Adapun pendapat yang dihikayatkan
oleh Abul Hasan ibnu Baththal, kemudian Al-Qadhi ‘Iyadh dari Asy-Syafi’i
dan selainnya –yaitu pendapat bahwa kencing bayi laki-laki suci
sehingga hanya dipercik– merupakan hikayat yang batil sama sekali.”
(Al-Minhaj, 3/194)
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-‘Utsaimin t pernah pula ditanya tentang hukum kencing bayi yang
mengenai pakaian. Beliau pun menjawab, “Yang benar dalam masalah ini,
kencing bayi laki-laki yang baru mengonsumsi air susu saja adalah najis
yang ringan dan penyuciannya cukup hanya dengan percikan, yaitu
digenangi dengan air –dituangi air sampai terliputi oleh air itu– tanpa
dikucek maupun diperas. Hal ini telah pasti adanya dari Nabi n, bahwa
pernah seorang bayi laki-laki dibawa ke hadapan beliau, lalu beliau
letakkan di pangkuan beliau, kemudian bayi itu kencing di situ. Beliau
pun meminta air, lalu menuangkannya pada kencing tersebut tanpa
mencucinya. Adapun kencing bayi perempuan, maka harus dicuci, karena
pada asalnya air kencing itu najis dan wajib dicuci. Hanya saja
dikecualikan air kencing bayi laki-laki yang masih kecil karena sunnah
menunjukkan hal ini.” (Majmu’ Fatawa, 11/249)
Terkadang air kencing tak hanya
mengenai pakaian, tapi juga lantai. Lebih-lebih bila si anak sudah mulai
merambah ke mana-mana, entah merangkak ataupun berjalan.
Jika si anak telah makan makanan,
maka hukumnya sama dengan kencing orang dewasa, sehingga disucikan
dengan menuangkan air pada tempat yang terkena air kencing itu.
Sebagaimana diriwayatkan tata cara seperti ini dari Nabi n oleh Anas bin
Malik z:
جَاءَ أَعْرَبِيٌّ فَبَالَ فِي
طَائِفَةِ الْمَسْجِدِ، فَزَجَرَهُ النَّاسُ، فَنَهَاهُمُ النَّبِيُّ n
فَلَمَّا قَضَى بَوْلَهُ أَمَرَ النَّبِيُّ n بِذَنُوْبٍ مِنْ مَاءٍ
فَأُهْرِيْقَ عَلَيْهِ
“Pernah datang seorang Arab
dusun, lalu buang air kecil di pinggiran masjid. Orang-orang pun segera
menghardiknya, maka Nabi n melarang mereka. Setelah orang itu selesai
buang air kecil, beliau meminta seember penuh air, kemudian menuangkan
air itu pada bekas air kencing itu.” (HR. Al-Bukhari no. 221 dan Muslim
no. 284)
Sebaiknyalah air kencing segera
dibersihkan, walaupun bisa pula hilang sama sekali bekas itu dengan
angin atau sinar matahari selama beberapa hari, karena dikhawatirkan
kita lupa bahwa di tempat itu masih ada bekas air kencing.
Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih
Al-‘Utsaimin t pernah ditanya tentang suatu tempat yang terkena najis,
kemudian bekas najis itu kering dengan sinar matahari.
Beliau menjawab, “Jika najis itu
hilang dengan penghilang apa pun, maka berarti tempat itu telah suci.
Karena najis adalah sesuatu yang kotor, jika telah hilang sesuatu yang
kotor itu, hilang pula sifatnya (sebagai najis, pent.). Sehingga sesuatu
(yang terkena, pent.) pun menjadi suci lagi, karena hukum dalam hal ini
tergantung ada atau tidaknya sebab. Menghilangkan najis ini bukan
termasuk masalah perintah yang dikatakan harus dilakukan demikian, namun
ini termasuk masalah menghindari sesuatu yang harus dijauhi. Hal ini
tidaklah tertolak dengan adanya hadits tentang kencingnya seorang A’rabi
di dalam masjid dan perintah Nabi n untuk dibawakan seember penuh air
lalu dituangkan pada air kencing tersebut, karena perintah Nabi n
menuangkan air itu untuk menyegerakan penyucian. Karena tentunya tidak
bisa segera suci dengan sinar matahari, bahkan butuh berhari-hari,
sementara air bisa menyucikan saat itu juga. Padahal masjid butuh segera
disucikan. Oleh karena itu, sepantasnya seseorang segera menghilangkan
najis, karena hal ini merupakan petunjuk Nabi n. Juga karena ini akan
menghindarkan dari najis sehingga seseorang tidak sampai lupa pada najis
itu, atau lupa pada tempat yang terkena najis tadi.” (Majmu’ Fatawa,
11/248)
Yang seperti ini hendaknya
diperhatikan sebaik-baiknya oleh para ibu. Tidak sepantasnya hal ini
luput dari perhatian kita, agar kita senantiasa dapat menunaikan ibadah
kepada Allah l dengan lebih sempurna.
Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab.
0 komentar:
Posting Komentar
Silahkan Komentar Disini