Kamis, 30 Oktober 2014

Profil Pendidikan Ekonomi



PROFIL PENDIDIKAN EKONOMI UNIVERSITAS JEMBER


Sebuah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) di lingkungan kampus Universitas Jember telah banyak melahirkan generasi penerus bangsa yang modal utamanya mendidik dan memberikan sumbangsih di bidang pendidikan, salah satu program studi yang terdapat di dalamnya ialah Program studi Pendidikan Ekonomi (selanjutnya ditulis “pe”), pe sendiri telah melalui akreditasi pada tahun 1998 dengan nilai akreditasi “B”

          Bertempat di kampus tegal boto Jl. Kalimantan no. 37 Jember, dengan kokohnya gedung pe berdiri, dengan berbagai fasilitas yang ada di dalamnya, mampu membuat suasana perkuliahan menjadi menarik dan para mahasiswa betah berlama-lama di dalam kampus.

          Memang, dalam rancangan kampus Unej ini, lebih mengedepankan sisi alamiahnya, tak heran jika mulai pintu masuk hingga pintu keluar dan setiap trotoarnya dipenuhi dengan pohon-pohon rindang. Misi Unej adalah mewujudkan green campus, dimana kampus yang berjuluk tegal boto ini bisa juga berfungsi sebagai taman kota.

          Lebih spesifik lagi ke dalam program studi pe Unej, banyak juga pohon-pohon yang ditanam di dalamnya, tak lupa juga di dalam taman gedung, terdapat beberapa patung seperti miniatur Burobudur dan patung bersejarah lainnya, hal ini mungkin karena gedung pe bercampur dengan prodi Pendidikan Sejarah. Sehingga dalam satu komplek gedung, mencakup 2 prodi IPS, yakni pe dan Pendidikan Sejarah.

Visi dari pe sendiri adalah menjadi pusat pengembangan dan pembelajaran ekonomi dan penguatan materi ilmu ekonomi yang berkualitas berwawasan lingkungan, dan berkemampuan mengembangkan IPTEK serta meningkatkan IMTAQ. Kemudian juga ada Misi yang ingin dicapai oleh pe ini sendiri, yakni Mengembangkan pendidikan dan pengajaran,penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat yang berorientasi pada pengembangan pembelajaran ekonomi dan penguatan materi ilmu ekonomi. Meningkatkan kualitas pembelajaran ilmu ekonomi sesuai paradigma baru pendidikan atau empat pilar pendidikan: (learn to know, learn to do, learn to be, and learn to live together). Menjalin dan mengembangkan kerjasama dengan lembaga internal di linkungan UNEJ dan lembaga eksternal.

Prodi Pendidikan Ekonomi juga memilki tujuan yang mesti dicapai, yakni, Menghasilkan sarjana pendidikan ekonomi dan sarjana ekonomi, serta tenaga profesi lainnya di bidang ekonomi dan bisnis yang peka terhadap makna keadilan sosial berlandaskan Pancasila, menghasilkan berbagai bentuk kerjasama dalam penyelenggaraan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam bidang ekonomi dan bisnis, menghasilkan berbagai bentuk layanan profesional dalam kegiatan penelitian pendidikan ekonomi, penelitian ekonomi dan bisnis, serta pengelolaan kegiatan ekonomi dan bisnis.

Di dalam prodi pe, terdapat berbagai macam kegiatan mahasiswa pe, seperti organisasi HMP, Jurnal, dan Kopma. Ketiganya merupakan produk asli dari mahasiswa pe secara turun temurun.

Pada usia yang sudah menginjak 25 tahun ini, pe berhasil mencetak para pendidik yang profesional dalam bidang ekonomi, bahkan setiap tahun, Kaprodi mencanangkan program magang ke luar negeri bagi mahasiswa yang benar-benar ingin menuntut ilmu setinggi-tingginya.

Dosen-dosen pe antara lain Prof. Dr. Bambang hari purnomo, MA, Dr. Sukidin, M.Pd, Dr. Srikantun, M.Ed, Drs. Sutrisno djaja, MM, Drs. Bambang Suyadi, M.Si, Dra. Sri wahyuni, M.Si, Drs. Joko widodo, MM, Drs. Pudjo suharso, M.si, Drs. Umar H. M Shaleh, M.Si, Dra. Retna Ngesti Sediyati, MP, Titin Kartini S.Pd, M.Pd, Hety Mustika ani S.Pd, M.Pd

Sistem perkuliahan dimulai pukul 7:00 WIB hingga kadang sampai pukul 18:00, mahasiswa dapat lulus dari Program Studi Pendidikan Ekonomi jika telah menempuh 146 SKS. Tiap semester mahasiswa boleh mengambil mata kuliah dengan beban maksimal 24 SKS.  Indeks prestasi semester yang diperoleh mahasiswa menentukan jumlah sks yang diambil semester berikutnya. Indeks prestasi semester dan kumulatif dihitung berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan universitas. Mengenai pembayaran SPP mulai tahun ajaran 2014/2015 menggunakan UKT (Uang Kuliah Tunggal), namun pe sendiri menampung banyak mahasiswa Bidik Misi yang memang para Mahasiswa ini memiliki softskiil tersendiri hingga membuat mereka mampu dan diterima menembus Prodi Pendidikan Ekonomi ini.

Penulis ingin mengungkapkan rasa serta pengalaman selama menjadi Mahasiswa Pendidikan Ekonomi.

Sebenarnya, penulis menempatkan pilihan prodi Pendidikan Ekonomi saat seleksi SBMPTN lalu adalah di bagian paling akhir, sehingga pada saat awal pengumuman, ada sedikit rasa ganjal di hati penulis. Namun lambat laun, penulis berhasil menemukan sebuah titik terang dan petunjuk kenapa penulis masuk dalam prodi Pendidikan Ekonomi. Ternyata setelah berjalan perkuliahan selama beberapa bulan, akhirnya penulis menemukan sebuah penyemangat dalam belajar ilmu ekonomi kepada B. Retna.

Penyemangat serta motivasi itu berawal dari diri sendiri, penulis menilai bahwa Pendidikan Ekonomi sendiri sesuai dengan cita-cita sejak kecil dulu menjadi menteri perekonomian Indonesia, sehingga bisa mengangkat citra buruk ekonomi masyarakat Indonesia. Yang kedua datangnya dari orang tua, sudah maklum memang bahwa orang tua selalu memberikan yang terbaik bagi setiap anaknya, sebagai bentuk balas budi dan bakti terhadap orang tua, penulis ingin belajar keras demi meraih cita-cita mulia ini, karena penulis yakin bahwa perjuangan mereka bukan hanya dengan keringat dan do’a, tetapi juga dengan air mata.

Tulisan ini penulis tulis demi melengkapi tugas PDMO yang diberikan kakak angkatan 2013 yang isinya membahas tentang profil Prodi Pendidikan Ekonomi itu sendiri, penulis sangat suka sekali dengan sistem pembelajaran di Prodi Pendidikan Ekonomi ini, mahasiswa diajak untuk aktif berdiskusi dalam kelas dan banyak mempresentasikan hasil diskusi masing-masing kelompok, penulis menilai bahwa gedung Prodi Pendidikan Ekonomi memang nyaman untuk digunakan sebagai tempat menyerap ilmu yang nantinya ilmu tersebut akan kembali ditransfer kepada para penerus bangsa Indonesia.

Harapan penulis terhadap Prodi Pendidikan Ekonomi ini, bukan hanya sekedar prodi yang meluluskan banyak mahasiswa, tetapi mahasiswa yang peka terhadap lingkungan, berjiwa sosial, dan tahan banting di setiap tantangan zaman.


Essay Isu Ekonomi



PEMBANGUNAN DAN KEMISKINAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.     Latar Belakang
Kemiskinan pada dasarnya merupakan salah satu bentuk problem yang muncul dalam kehidupan masyarakat, khususnya masyarakat di negara-negara yang sedang berkembang. Masalah kemiskinan ini menuntut adanya suatu upaya pemecahan masalah secara berencana, terintegrasi dan menyeluruh dalam waktu yang singkat. Upaya pemecahan masalah kemiskinan tersebut sebagai upaya untuk mempercepat proses pembangunan yang selama ini sedang dilaksanakan.
Istilah kemiskinan sebenarnya bukan merupakan suatu hal yang asing dalam kehidupan kita. Kemiskinan yang dimaksud adalah kemiskinan ditinjau dari segi materi (ekonomi). Dari kegagalan dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran,dan ketimpangan pendapatan secara berarti, maka para ahli kemudian bergeser dari penciptaan lapangan kerja yang memadai, penghapusan kemiskinan, dan akhirnya penyediaan barang-barang dan jasa kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk.

B.     Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini untuk mengetahui bagaimana pembangunan dan kemiskinan yang berada di lingkungan sekitar.

C.   Rumusan Masalah
1)      Apa yang dimaksud dengan pembangunan dan kemiskinan?
2)      Bagaimana dampak – dampak pembangunan ?
3)      Sebutkan indikator – indikator pembangunan?
4)      Sebutkan indikator – indikator kemiskinan?
5)      Sebutkan upaya-upaya mengatasi kemiskinan?
6)      Apa hubungan pembangunan dengan kemiskinan?


BAB II
PEMBAHASAN

A.     Pengertian Pembangunan dan Kemiskinan
1)      Pengertian Pembangunan
Pembangunan adalah proses untuk melakukan perubahan atau suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation building). Pembangunan (development) adalah proses perubahan yang mencangkup seluruh system social, seperti politik, ekonomi, infrastruktur, pertahanan, pendidikan dan teknologi, kelembagaan dan budaya. Dalam pengertian lain, pembangunan adalah proses perubahan yang direncanakan untuk memperbaiki berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Menurut para sarjana sains sosial dan kemanusiaan, pembangunan adalah sebagai bagian dari proses perubahan sosial yang sifatnya lebih menyeluruh. Pembangunan itu pula dibagi kepada dua kategori besar. Pertama, pembangunan yang direncanakan, dan kedua pembangunan yang tidak direncanakan.
Namun jika dilihat dari segi kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Menciptakan lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan kemudahan atau fasilitas agar hidup lebih nikmat. Pembangunan adalah suatu intervensi manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan alam fisik, maupun lingkungan sosial budaya.
Proses pembangunan terjadi di semua aspek kehidupan masyarakat, ekonomi, social, budaya, politik, yang berlangsung pada level makro (nasional) dan mikro (community/group). Maka penting dari pembangunan adalah adanya kemajuan/perbaikan (progress), pertumbuhan dan diversifikasi.
Dengan semakin meningkatnya kompleksitas kehidupan masyarakat yang menyangkut berbagai aspek, pemikiran tentang modernisasi pun tidak lagi hanya mencangkup bidang ekonomi dan industri, melainkan telah menambah keseluruh aspek yang dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat.
Dalam proses modernisasi terjadi suatu proses perubahan yang mengarah pada perbaikan, para ahli manajemen pembangunan menganggapnya sebagai suatu proses pembangunan dimana terjadi proses perubahan dari kehidupan tradisional menjadi modern, yang pada awal mulanya ditandai dengan adanya penggunaan alat-alat modern, menggantikan alat-alat tradisional.
Dalam nilai-nilai ajaran islam, terdapat beberapa ciri pokok dari pembangunan islam. Konsep pembangunan dalam islam bersifat menyeluruh, menyentuh dan menghujam kedalam jati diri manusia, sehingga dengan demikian terlebih dahulu ia membangun manusia seutuhnya,material dan spiritual secara bersamaan. Tanpa ini, pembangunan yang dilakukan akan runtuh sendiri oleh manusia, baik secara sadar maupun tidak. Menurut Quraish Shihab prinsip-prinsip yang menjadi landasan untuk pembangunan yaitu:
a.       Tauhid
          Yaitu kepercayaan tentang keesaan Tuhan, yang mencangkup pengertian bahwa segala sesuatu harus dikaitkan dengan keesaan-Nya sebagai sumber segala sumber. Keyakinan ini antara lain mengantarkan manusia kepada kesatuan sebagai bentuk tunggal, sehingga tidak terjadi pemisahan antara dunia dan akherat, jiwa dan raga, alamiah dan non-alamiah.
b.      Rububiyah
          Tuhan memelihara manusia antara lain melalui petunjuk-petunjuk-Nya, rahmat dan rezeki-Nya, sehingga harus disyukuri. Syukur dalam hal ini adalah menggunakan atau mengolah segala anugrah Tuhan dalam diri manusia atau yang terdapat di alam sesuai dengan tujuan dari langit.
c.       Khilafah
          Prinsip ini menetapkan kedudukan dan peranan manusia sebagai makhluk yang telah menerima amanat setelah ditolak oleh makhluk-makhluk lainnya. Atas dasar inilah ia bertanggung jawab baik menyangkut dirinya maupun dunianya, bertanggung jawab untuk memelihara, mengayomi, dan menggunakannya dengan baik.
d.      Tazkiyah
          Prinsip ini menetapkan bahwa hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesamanya dan alam lingkungannya, harus selalu diliputi oleh kesucian serta pemeliharaan nilai-nilai agama, akal, jiwa, harta dan kehormatan manusia. Sehingga setiap tindakan yang dapat menodai salah satu dari kelima hal tersebut tidak dibenarkan oleh islam.


2)      Pengertian Kemiskinan
Kata miskin diartikan tidak berharta atau serba kekurangan. Sedangkan fakir diartikan orang yang sangatkekurangan atau sangat miskin. Akan tetapi kedua kata miskin dan fakir telah menjadi satu istilah yang baku yaitu fakir miskin sebagai suatu istilah yang makna sama yaitu kondisi yang serba kekurangan materi.
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. (Emil Salim, 1982). Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur.
Garis kemiskinan, yang menentukan batas minimum pendapatan yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, bisa dipengaruhi oleh tiga hal:
(1) persepsi manusia terhadap kebutuhan pokok yang diperlukan
(2) posisi manusia dalam lingkungan sekitar
(3) kebutuhan objektif manusia untuk bisa hidup secara manusiawi.
Kesemuanya dapat tersimpul dalam barang dan jasa serta tertuangkan dalam nilai uang sebagai patokan bagi penetapan pendapatan minimal yang diperlukan, sehingga garis kemiskinan ditentukan oleh tingkat pendapatan minimal.

B.   Dampak-Dampak Adanya Pembangunan
Pembangunan melibatkan usaha sadar manusia merancang perubahan dalam hidup mereka. Tindakan ini sering diungkapkan sebagai sosial engineering (mesin sosial), yang melibatkan banyak pihak untuk menjalankan perencanaan, pelaksanaan, penerima dan terpenting sekali pembiayaannya. Dalam konteks sebuah masyarakat, tindakan merancang pembangunan menjadi tanggung jawab semua lapisan rakyat, masing-masing dengan bentuk sumbangan yang tertentu sesuai dengan kapasitas dan kemampuan. Ahli politik, anggota professional, para akademik, pengusaha, pakar teknologi, kaum tani, kelas pekerja dan berbagai-bagai golongan lain termasuk rakyat terbanyak, semuanya sama-sama terlibat dalam proses pembangunan ini.
Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju pembangunan, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia dalam masyarakatnya. Walaupun kata pembangunan mempunyai makna yang berbeda-beda, namun satu makna yang diterima oleh masyarakat umum ialah perubahan.
Pembangunan kadang kala digunakan dalam pengertian yang sempit hanya sebagai industralisasi atau pemodernan. Bagaimanapun dalam makna yang luas ia bermaksud meningkatkan derajat manusia dalam sebuah masyarakat tertentu. Pembangunan adalah upaya untuk meningkatkan nilai kehidupan semua masyarakat dalam segala bidang.
Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan suatu bangsa. Terlebih lagi jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya.
Pembangunan nasional bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata, materil, dan spiritual berdasarkan pancasila. Bahwa hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah tentu pendekatan dan strategi pembangunan hendaknya menempatkan manusia sebagai pusat interaksi kegiatan pembangunan spiuritual maupun material.
Pembangunan yang melihat manusia sebagai makhluk budaya, dan sebagai sumber daya dalam pembangunan. Hal itu berarti bahwa pembangunan seharusnya mampu meningkatkan harkat dan martabat manusia. Menumbuhkan kepercayaan diri sebagai bangsa. Menumbuhkan sikap hidup yang seimbang dan berkepribadian utuh. Memiliki moralitas serta integritas sosial yang tinggi. Manusia yang takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pembangunan telah membawa perubahan dalam masyarakat. Perubahan itu nampak terjadinya pergeseran sistem nilai budaya, penyikapan yang berubah anggota masyarakat terhadap nilai-nilai budaya. Pembangunan telah menimbulkan mobilitas sosial, yang diikuti oleh hubungan antar aksi yang bergeser dalam kelompok-kelompok masyarakat. Sementara itu terjadi pula penyesuaian dalam hubungan antar anggota masyarakat. Dapat dipahami apabila pergeseran nilai-nilai itu membawa akibat jauh dalam kehidupan kita sebagai bangsa.



C.   Indikator-indikator Pembangunan
Sejumlah Indikator ekonomi yang dapat digunakan oleh lembaga-lembaga internasional anatara lain:
1)      Pendapatan Perkapita (GNP atau PDB)
          Salah satu Indikator makro-ekonomi yang telah lama digunakan untuk mengukur pertumbuhan ekonomi. Yang merupakan bagian kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Penggunaan Indikator ini tidak mengukur distribusi. pendapatan dan pemerataan kesejahteraan, termasuk pemerataan akses terhadap sumber daya ekonomi.
2)      Struktur Ekonomi
          Peningkatan perkapita akan mencerminkan transformasi struktual dalam bidang ekonomi dan kelas-kelas social. Dengan adanya perkembangan ekonomi dan peningkatan perkapita, konstribusi sector manupaktur/industry dan jasa terhadap pendapatan nasional akan meningkat terus. Perkembangan sector industry dan perbaikan tingkat upah akan meningkatkan permintaan atas barang-barang industry, yang akan diikuti oleh perkembangan investasi dan perluasan tenaga kerja. Kontribusi sector pertanian terhadap pendapatan nasional akan semakin menurun.
3)      Urbanisasi
          Yaitu meningkatnya proporsi penduduk yang bermukim di wilayah perkotaan dibandingkan dengan di pedesaan. Kecepatan urbanisasi akan semakin tinggi sesuai dengan cepatnya proses industrialisasi. Urbanisasi digunakan sebagai salah satu indikator pembangunan.
4)      Indeks Kualitas Hidup (IKH)
          Digunakan untuk mengukur kesejahteraan dan kemakmuran masyarakat. Indeks ini dihitung berdasarkan :
a.       Angka rata-rata harapan hidup pada umur satu tahun
b.      Angka kematian bayi
c.       Angka melek huruf
Indeks ini dianggap sebagai yang paling baik untuk mengukur kualitas manusia sebagai hasil dari pembangunan, dosamping pendapatan perkapita sebagai ukuran kuantitas manusia.
5)      Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index)
          Di dalam indeks ini pembangunan dapat diartikan sebagai sebuah proses yang bertujuan mengembangkan pilihan-pilihan yang dapat dilakukan oleh manusia. Hal ini di dasari oleh asumsi bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia akan diikuti oleh terbukanya berbagai pilihan dan peluang menentukan jalan hidup manusia secara bebas.

D.   Indikator-Indikator Kemiskinan
Menurut (Emil Salim: 1928) yang dimaksud dengan kemiskinan adalah suatu keadaan yang dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Atau dengan istilah lain kemiskinan itu merupakan ketidakmampuan dalam memenuhi kebutuhan pokok, sehingga mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya.
Kemiskinan lazimnya dilukiskan sebagai kurangnya pendapatan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang pokok. Dikatakan berada dibawah garis kemiskinan apabila pendapatan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang paling pokok seperti pangan, pakaian, tempat berteduh, dan lain-lain. (Emil Salim, 1982). Kemiskinan merupakan tema sentral dari perjuangan bangsa, sebagai inspirasi dasar dan perjuangan akan kemerdekaan bangsa, dan motivasi fundamental dari cita-cita menciptakan masyarakat adil dan makmur. Adapun indikator-indikator kemiskinan antara lain:
1)      Pendidikan yang terlampau rendah
Dengan adanya tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan seseorang kurang mempunyai keterampilan tertentu yang diperlukan dalam kehidupanyya. Keterbatasan pendidikan/ keterampilan yang dimiliki menyebabkan keterbatasan kemampuan untuk masuk dalam dunia kerja. Atas dasar kenyataan diatas dia miskin karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.
2)   Malas bekerja
Sikap malas merupakan suatu masalah yang cukup memprihatinkan, karena masalah ini menyangkut mentalitas dan kepribadian seseorang. Adanya sikap malas ini seseorang bersikap acuh tak acuh dan tidak bergairah untuk bekerja. Cenderung untuk menggantungkan hidupnya pada orang lain, baik dari keluarga, saudara atau famili yang dipandang mempunyai kemampuan untuk menanggung kebutuhan hidup mereka.



3)   Keterbatasan sumber alam
Kemiskinan akan melanda suatu masyarakat apabila sumber alamnya tidak lagi memberikan keuntungan bagi kehidupan mereka. Sering dikatakan oleh para ahli, bahwa masyarakat itu miskin karena memang dasarnya (alamiah miskin).
Alamiah miskin yang dimaksud adalah kekayaan alamnya, misalnya tanahnya berbatu-batu, tidak menyimpan kekayaan mineral dan sebagainya. Dengan demikian layaklah kalau miskin sumber daya alam, miskin juga masyarakatnya.

E.   Penyebab Adanya Kemiskinan
              Beberapa faktor kemiskinan diantaranya pendidikan yang rendah dipandang sebagai penyebab kemiskinan. Dari dimensi kesehatan, rendahnya mutu kesehatan masyarakat menyebabkan terjadinya kemiskinan. Dari dimensi ekonomi, kepemilikan alat-alat produktif yang terbatas, penguasaan teknologi dan kurangnya keterampilan, dilihat sebagai alasan mendasar mengapa terjadi kemiskinan. Faktor kultur dan struktual juga kerap kali dilihat sebagai elemen penting yang menentukan tingkat kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat.
Penyebab kemiskinan menurut Kuncoro (2000: 107) sebagai berikut:
1)      Secara makro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumber daya yang menimbulkan distribusi pendapatan timpang, penduduk miskin hanya memiliki sumber daya dalam jumlah yang terbatas dan kualitasnya rendah.
2)      Kemiskinan muncul akibat perbedaan kualitas sumber daya manusia karena kualitas sumber daya manusia yang rendah berarti produktivitas juga rendah, upahnya pun rendah.
3)      Kemiskinan muncul sebab perbedaan akses modal.

F.     Usaha Mengatasi Kemiskinan
Dari kegagalan kebijaksanaan konvesional mengenai pertumbuhan ekonomi di banyak Negara berkembang dalam mengurangi kemiskinan, pengangguran dan disparitas (ketimpangan) pendapatan secara berarti telah memaksa baik para perencana ekonomi dan teknokrat maupun para peneliti ekonomi untuk kembali mempelajari secara sunguh-sunguh kebijaksanaan tersebut,serta mendorong mereka untuk mempelajari alternatif-alternatif yang realistis bagi kebijaksanaan pertumbuhan ekonomi yang konvensional. Dalam hal ini pendekatan kebutuhan dasar dalam perencanaan pembangunan merupakan hasil yang logis dari suatu proses reorientasi yang panjang dalam pemikiran tentang pembangunan.
Dari hasil-hasil penelitian kemudian pusat perhatian para ahli lambat laun mulai bergeser dari tekanan pada penciptaan lapangan kerja yang memadai ke penghapusan kemiskinan, dan akhirnya ke penyediaan barang-barang dan jasa-jasa kebutuhan dasar bagi seluruh penduduk, yang berupa dua perangkat, yaitu:
1)     Perangkap kebutuhan konsumsi perorangan akan pangan ,sandang, dan pemukiman.
2)     Perangkap yang mencakup penyediaan jasa umum dasar, seperti fasilitas kesehatan,  pendidikan, saluran air minum, pengangkutan, dan kebudayaan.
Pengalaman dari negara-negara Asia Timur, yaitu Korea, Taiwan, Jepang menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang pesat dengan disertai pemerataan hasil-hasil pembangunan dapat tercapai. Karena di negara-negara tersebut program pembangunan pedesaan  sangat diutamakan.

G.  Pembangunan dan Kemiskinan
Di Indonesia pola perkembangan pembangunan juga mengikuti pendapatan yang dikemukakan Kuznets, artinya golongan miskin kurang terjamah oleh hasil-hasil pertumbuhan ekonomi. Mengapa mereka tidak terangkat, padahal pemerintah telah mengambil kebijaksanaan penyebaran proyek-proyek ke daerah-daerah ke desa-desa.
Bila diteliti golongan-golongan miskin yang tidak terjamah oleh hasil-hasil pembangunan karena:
1)   Ketimpangan dalam peningkatan pendidikan. Selama belum ada kewajiban belajar golongan miskin tidak akan mampu berpartisipasi mengenyam peningkatan anggaran pendidikan.
2)   Ketidakmerataan kemampuan untuk berpartisipasi. Untuk berpartisipasi diperlukan tingkat pendidikan, keterampilan, relasi, dan sebagainya. Golongan miskin tidak memilikinya .
3)   Ketidakmerataan pemilikan alat-alat produksi.Golongan miskin tidak memiliki alat-alat produksi, penghasilannya untuk makan saja sudah susah, sehingga tidak mungkin untuk membentuk modal.
4)   Ketidakmerataan kesempatan terhadap modal dan kredit ada. Modal dan kredit pemberiannya menghendaki syarat-syarat tertentu dan golongan miskin tidak mungkin memenuhi persyaratannya.
5)   Ketidakmerataan menduduki jabatan-jabatan. Untuk mendapat pekerjaan yang memberi makan pada keluarga saja susah, apalagi menduduki jabatan-jabatan yang sering memerlukan relasi tertentu dan persyaratan tertentu.
6)   Ketidakmerataan mempengaruhi pasaran. Karena miskin dan pendidikannya rendah, maka tidak mungkin golongan miskin dapat mempengaruhi pasaran.
7)   Ketidakmerataan kemampuan menghindari musibah misalnya penyakit, kecelakaan dan ketidak beruntungan lainnya. Bagi golongan miskin dibutuhkan bantuan untuk dapat mengatasi musibah tersebut. Mengharapkan diri mereka sendiri dapat mengangakat dirinya tanpa pertolongan, sukar dipastikan.
8)   Laju pertumbuhan penduduk lebih memberatkan golongan miskin. Dengan jumlah keluarga besar, mereka sulit dapat menyekolahkan, memberi makan, dan pakaian secukupnya. Hanya keluarga yang kaya atau berpenghasilan besar sajalah yang mampu.
Dapatlah dipastikan bahwa golongan berpenghasilan rendah, karena kurang terjamah pendidikan, tidak memiliki sarana-sarana, misalnya kredit, modal, alat-alat produksi, relasi dan sebagainya, tidak akan mampu berpartisipasi dalam pertumbuhan ekonomi dan menikmati pembagian hasil-hasilnya tanpa adanya kebijaksanaan khusus yang ditujuakan untuk mengangkat mereka.











BAB III
KESIMPULAN
Kemiskinan sering diidentifikasikan dengan kekurangan terutama kekurangna bahan pokok seperti pangan, kesehatan ,sandang, papan, dan sebagainya. Dengan kata lain, kemiskinan merupakan ketidak mampuan memenuhi kebutuhan pokok, sehingga ia mengalami keresahan, kesengsaraan atau kemelaratan dalam setiap langkah hidupnya (Siswanto, 1998). Kemiskinan bagaikan penyakit yang diberantas. Namun upaya memberantas tidak selalu membawa hasil karena masalah memang kompleks.
Untuk mengatasi kemiskinan, paling tidak harus dilihat dari konteks masalahnya. Kemiskinan timbul dari berbagai faktor yang setiap faktornya memerlukan penanganan khusus.
Pembangunan membawa perubahan dalam diri manusia, masyarakat dan lingkungan hidupnya. Serentak dengan laju pembangunan, terjadi pula dinamika masyarakat. Terjadi perubahan sikap terhadap nilai-nilai budaya yang sudah ada. Terjadilah pergeseran sistem nilai budaya yang membawa perubahan pula dalam hubungan interaksi manusia dalam masyarakatnya. Walaupun kata pembangunan memiliki makna yang berbeda-beda, namun satu makna yang diterima oleh masyarakat umum adalah perubahan.











Daftar Pustaka

Ahmadi, Abu.1988. Ilmu Sosial Dasar. Bandung: Rineka Cipta
Hidayati, Nur, dkk. 2007. IAD-ISD-IBD. Bandung: CV Pustaka Setia
Soelaeman, Munandar.1987. Ilmu Sosial Dasar Teori dan Konsep Ilmu Sosial. Bandung: Eresco
http://naonwehlahbebas.wordpress.com/2010/05/25/pembangunan-dan-kemiskinan/